Adalah mendunda-nunda pekerjaan yang menjadi musuh besar saya saat ini. Salah satunya adalah mencatat dan mendokumentasikan proses melatih kemandirian yang menjadi tugas IIP kali ini. Baiklah, saya akan mencoba bercerita tentang kemandirian yang dilatihkan kepada Hanif dan Kantia.
Tahun ajaran baru ini, Hanif memasuki kelas 8 Mts, setahun kemarin, kami mengantar jemput ia ke sekolah dengan menggunakan ojeg langganan. Kali ini dengan melalui kesepakata bersama, Hanif mulai pergi dan pulang sekolah sendiri menggunakan kendaraan umum, ojeg, angkot kemudian ojeg lagi. Sudah seminggu berselang, Alhamdulillah so far so good, walaupun ibunya deg-degan tiada terkira, namun berusaha untuk mengenyampingkan rasa khawatir itu dan berdo'a serta meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja. Kenapa kemandirian ini yang dilatihkan kepada Hanif? karena selama ini, Ia selalu mengandalkan orang lain. Ada solusi mudah untuk pergi dan pulang sekolah. Tinggal naik dan turun ojeg, dan banyak hal lain yang ia tidak harus memikirkannya. Sekarang, kami coba untuk setahap demi setahap memberi tanggung jawab besar padanya untuk bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri. Semoga, ikhtiar ini bisa berjalan lancar dan membawa hasil. Dan selanjutnya kemandirian- kemandirian lain bisa dilatihkan kembali.
Sedangkan untuk Neng Kantia, yang berusia 3 thn 8 bln, saya ingin melatihnya untuk makan sendiri. Selama ini, karena sangat aktif dan terkadang susah makan, saya selalu menyuapinya dan Ia masih bergerak ke sana ke mari. Kali ini saya latih untuk bisa makan sendiri. Awalnya Ia menolak, saya bujuk tetap menolak, akhirnya saya menawarkannya untuk selang seling, satu kali saya suapi dan satu kali Ia yang menyuapi dirinya sendiri, trik ini berhasil. Sampai selesai Ia bisa makan sendiri. ALhamdulillah.
#level2
#Bunsayiip
#melatihkemandirian
#tantangan10hari
Wednesday, July 19, 2017
Saturday, June 24, 2017
Aliran Rasa Tantangan #1
Pada awal pendaftaran kelas Bunsay IIP ini, saya merasa tidak yakin untuk ikut lanjut kelasnya atau cuti, karena merasa overwhelmed dengan amanah yang saat ini diemban. Dengan menguatkan diri dan tekad akhirnya daftar dan mengikuti kelasnya. Materi pertama difahami, dan lanjut menerapkan materi dengan mengerjakan tantangan komunikasi produktif dengan anak-anak. Saat itu memilih menerapkan kaidah 7-38-55. Tantangannya menerapkan salah satu kaidah komunikasi, menuliskannya dan setor link tulisan selama 10 hari. Saya berusaha konsisten menerapkannya, konsisten menuliskannya dan menyetorkan link tulisan sebagai salah satu syarat yang diminta di kelas tadi. Sempat terjadi "kerusuhan" HP rusak, link laporan tulisan ada di HP, saya berusaha untuk bertanya kepada beberapa teman sekelas melalui FB, ndilalah, mereka tidak sempat membuka messages yang saya kirimkan. Alhamdulillah ketika akhirnya HP kembali sehat, saya kembali mendapatkan link itu laporan bisa berlanjut. Alhamdulillah, semua berjalan normal kembali.
Namun ketika menerima pengumuman bahwa saya tidak lulus dalam tantangan ini karena link tulisan kurang satu, tulisan ke8 katanya. Kaget dan kecewa karena merasa sudah menyetorkan linknya. Kesalahan saya adalah tidak memeriksa kembali apakah setoran saya sudah masuk atau belum. Saat itu saya tidak memeriksa kembali karena merasa "everything is good" karena yang sebelum-sebelumnya saya periksa juga baik-baik saja. Sempat kepikiran "kenapa tidak dicek saja tulisan di blognya, kan terlihat bahwa ada tulisan tiap hari", tapi aturan ya aturan, dan aturannya tidak seperti itu, jadi ya terima saja. In the end, sayapun berfikir apalah kita mengharap pernghargaan manusia, bukankah tujuan akhir adalah NYA dan hanya DIA, bukankah saya sudah berusaha. Alhamdulillah hilanglah kecewa, In Sya Alloh masih banyak semangat untuk melanjutkan kelas ini, menerima tantangan-tantangan lain, demi diri, mereka dan mencapai tujuan lain dari hidup ini.
#aliranrasatantangan1
Wednesday, June 14, 2017
Komunikasi Produktif Day 10
Hari kesepuluh, seharusnya sudah cukup melatih diri untuk konsisten menerapkan komunikasi produktif kaidah 7-38-55 yang saya pilih untuk dilatih. JIka saya minta penilaian Hanif, the coolest. Katanya "50% nicer, Ibu", Alhamdulillah ada perubahan dan peningkatan, walaupun baru setengahnya :). Semangat berubah Ibuu.
Hari ini berjalan seperti biasa, tidak ada "insiden" berarti kaitan dengan berkomunikasi, anggota keluarga tidak ada 2 orang. Di rumah hanya saya, Neng, Raka dan Hanif. Hanif beraktifitas biasa, depan komputer doing khan academy, "belajar" katanya, tapi sering saya ingatkan, karena walaupun belajar tetap saja tidak terus menerus. Matanya harus istirahat, dan dia juga harus melakukan kewajiban lain di rumah ini. Tidak selalu mudah memintanya beranjak dari depan komputer, tapi saya harus tetap mengingatkan, jangan bosan dan males untuk mengajaknya, mengingatkan kewajibannya sebagai hamba dan kewajibannya sebagai anggota keluarga, ataupun sekedar bermain dengan kami, misalnya. Tidak melulu sendiri. Dan ternyata bukan hanya Hanif yang perlu diingatkan, Raka juga. Kadang saya merasa Raka sudah cukup dewasa untuk tahu dan melaksanakan kewajibannya atau hal-hal yang memang seharusnya dia lakukan. Tapi tidak begitu, kadang dia terlalu asyik melakukan apa yang dia suka, penting atau tidak untuk kehidupannya kini dan nanti, entahlah. Dia juga masih harus saya toel. Untuk anak-anak kami, sejauh ini, baru sholat di Masjid yang tidak perlu lagi saya ingatkan. Mereka sudah otomatis beranjak ketika waktunya sholat tiba. Alhamdulillah.
Berkaitan dengan ingat dan mengingatkan, sebetulnya bukan hanya anak-anak yang masih perlu untuk terus diingatkan. Saya juga, si Ibu, si orang dewasa ini masih perlu dan harus sering-sering diingatkan. Caranya itu yang harus tetap diperhatikan, bagaimana supaya proses ingat dan mengingatkan ini berlangsung efektif. Inilah yang sedang saya pelajari dan latih. Kaidah-kaidah berkomunikasi produktif secara keseuruhan harus dilatih untuk konsisten diterapkan. Baru satu kaidah yang saya terapkan, sudah sangat terasa manfaatnya. Saya merasa nyaman, merasa menjadi Ibu yang lebih baik, anak-anak juga lebih bahagia ketika meresponnya.
Oh Alloh berikan kemudahan kepada saya, si Ibu yang punya banyak amanah ini, untuk terus belajar, bersabar dan konsisten melatih diri memampukan diri mendampingi diri dan anak bertumbuh di jalanMU, menuju RidhoMu. Aamiin.
#day10
#level1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Hari ini berjalan seperti biasa, tidak ada "insiden" berarti kaitan dengan berkomunikasi, anggota keluarga tidak ada 2 orang. Di rumah hanya saya, Neng, Raka dan Hanif. Hanif beraktifitas biasa, depan komputer doing khan academy, "belajar" katanya, tapi sering saya ingatkan, karena walaupun belajar tetap saja tidak terus menerus. Matanya harus istirahat, dan dia juga harus melakukan kewajiban lain di rumah ini. Tidak selalu mudah memintanya beranjak dari depan komputer, tapi saya harus tetap mengingatkan, jangan bosan dan males untuk mengajaknya, mengingatkan kewajibannya sebagai hamba dan kewajibannya sebagai anggota keluarga, ataupun sekedar bermain dengan kami, misalnya. Tidak melulu sendiri. Dan ternyata bukan hanya Hanif yang perlu diingatkan, Raka juga. Kadang saya merasa Raka sudah cukup dewasa untuk tahu dan melaksanakan kewajibannya atau hal-hal yang memang seharusnya dia lakukan. Tapi tidak begitu, kadang dia terlalu asyik melakukan apa yang dia suka, penting atau tidak untuk kehidupannya kini dan nanti, entahlah. Dia juga masih harus saya toel. Untuk anak-anak kami, sejauh ini, baru sholat di Masjid yang tidak perlu lagi saya ingatkan. Mereka sudah otomatis beranjak ketika waktunya sholat tiba. Alhamdulillah.
Berkaitan dengan ingat dan mengingatkan, sebetulnya bukan hanya anak-anak yang masih perlu untuk terus diingatkan. Saya juga, si Ibu, si orang dewasa ini masih perlu dan harus sering-sering diingatkan. Caranya itu yang harus tetap diperhatikan, bagaimana supaya proses ingat dan mengingatkan ini berlangsung efektif. Inilah yang sedang saya pelajari dan latih. Kaidah-kaidah berkomunikasi produktif secara keseuruhan harus dilatih untuk konsisten diterapkan. Baru satu kaidah yang saya terapkan, sudah sangat terasa manfaatnya. Saya merasa nyaman, merasa menjadi Ibu yang lebih baik, anak-anak juga lebih bahagia ketika meresponnya.
Oh Alloh berikan kemudahan kepada saya, si Ibu yang punya banyak amanah ini, untuk terus belajar, bersabar dan konsisten melatih diri memampukan diri mendampingi diri dan anak bertumbuh di jalanMU, menuju RidhoMu. Aamiin.
#day10
#level1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Tuesday, June 13, 2017
Komunikasi Produktif Day 9
Sudah dua malam rumah tanpa Ilman, sepi. Kangen membangunkannya, kangen memintanya menemani Neng bermain, kangen obrolannya. Dua hari lagi dia pulang, In Sya Alloh. Semoga pulang sehat dan membawa pengalaman berharga untuk bekalnya kini dan nanti.
Adakah yang special hari ini? selain special karena satu anggota keluarga tidak di rumah?. Tadi pagi, saya meminta Hanif untuk mulai kembali menulis Al Qur'an, sembari membacanya. Dia melakukannya, setelah beberapa lama saya tengok Ia ke kamarnya, baru satu ayat ia selesaikan, dia malah membaca komik, "tangannya pegel Ibu" begitu alasannya. Saya peluk Hanif, mengomentari sambil bercanda, menyemangati dengan usapan dan senyuman. Hanif melanjutkan kembali menulisnya dengan cengiran ceria. Sepertinya cara saya berkkomunikasi dengan Hanif kala itu berhasil. Itu yang dia inginkan, support tidak harus selalu dengan kata. "Semoga Ibu semakin sering mengusap, memeluk dan bercengkrama denganmu, my special boy".
#level1
#day9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Adakah yang special hari ini? selain special karena satu anggota keluarga tidak di rumah?. Tadi pagi, saya meminta Hanif untuk mulai kembali menulis Al Qur'an, sembari membacanya. Dia melakukannya, setelah beberapa lama saya tengok Ia ke kamarnya, baru satu ayat ia selesaikan, dia malah membaca komik, "tangannya pegel Ibu" begitu alasannya. Saya peluk Hanif, mengomentari sambil bercanda, menyemangati dengan usapan dan senyuman. Hanif melanjutkan kembali menulisnya dengan cengiran ceria. Sepertinya cara saya berkkomunikasi dengan Hanif kala itu berhasil. Itu yang dia inginkan, support tidak harus selalu dengan kata. "Semoga Ibu semakin sering mengusap, memeluk dan bercengkrama denganmu, my special boy".
#level1
#day9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Monday, June 12, 2017
Komunikasi Produktif Day 8
Memasuki hari kedelapan latihan berkomunikasi produktif dengan menjaga intonasi suara dan sikap yang ramah, Alhamdulillah bisa dikatakan sukses. Pagi jadwal saya mengambil raport Hanif ke sekolah, saya pergi sendirian meninggalkan Neng di rumah bersama para kaka. Ketika saya sampai di rumah, Neng sedang bermain bersama temannya, sewaktu adzan dzuhur berkumandang, si teman pulang dan Neng ingin ikut dan bermain kembali di rumah temannya, namun saya tidak mengijinkan dengan alasan temannya harus tidur siang dan Ia pun perlu istirahat. Si Neng menjerit nangis, saya memeluknya, menenangkannya dan mengajaknya untuk beristirahat. Tidak lama kemudian, si Neng tenang dan lanjut mewarnai bersama saya. Senangnya jika kita bisa menjaga kepala dan hati tetap dingin, komunikasi lebih mudah dan tepat sasaran. Semoga tetap terjaga.
#Level1
#Day8
#tantangan10hari
#komunikasiprodukktif
#Kuliahbunsayiip
#Level1
#Day8
#tantangan10hari
#komunikasiprodukktif
#Kuliahbunsayiip
Sunday, June 11, 2017
Komunikasi Produktif Day 7
Hari ini, hari besar untuk Raka dan Ilman. Raka diundang untuk sharing pengalaman Ramadhan di Amerika di acara Markisa, "Mabit Riang Kita Semua", di Masjid An-Nuur Sukapada. Sedangkan Ilman harus ada di Masjid Salman jam 7.30 untuk mengikuti acara Safari Ramadhan yang akan berlangsung selama 4 hari.
Selepas shalat subuh, saya menemani Ilman ngecek barang-barang bawaan Safari Ramadhan, jam 6 baru selesai. Dia minta ijin untuk tidur lagi, walau hanya 15 menit. Saya ijinkan, karena acara hari itu akan padat, istirahat sebentar mungkin akan menyegarkannya. Saya lupa kalau di pagi hari, gak mungkin Ilman bisa tidur hanya 15 menit. Benar saja, susah sekali membangunkannya, berulangkali saya membangunkan Ilman, sudah bangun dia perlu waktu sangat lama di kamar mandi, hingga saya dan kaka-kakanya mengetuk2 pintu kamar mandi, ya Rahman. Benar-benar uji kesabaran :).
Saya pergi mengantar Ilman ke Salman dengan membawa Neng yang masih terkantuk-kantuk. Neng ga mau makan, tapi lapar. Sampai di Salman dia merengek-rengek minta jajan, sudah berkeliling cari warung tidak ada yang buka, ditawarkan makanan yang dibawa dari rumah tetap ngga mau. Diantara banyak orang seperti itu, saya lebih bisa mengontrol diri, berdiskusi dengan Neng memberikannya beberapa pilihan. Makan, makanan dari rumah, tetap rewel atau jalan mencari warung. Dan Ia memilih jalan mencari warung. Akhirnya setelah berjalan jauh kami menemukan warung pinggir jalan yang buka dan si Neng bisa jajan. Selesai sudah episode rewel pagi itu tanpa drama yang berarti. Ilman sudah diserahterimakan kepada panitia Sanlat, dia terlihat bahagia. Semoga dia dapat pengalaman yang berharga untuk kehidupannya kini dan nanti.
Setelah dirasa-rasa, ketika di rumah saya lebih sulit bagi saya untuk mengontrol intonasi suara dan sikap berbicara kepada anak-anak, sebaliknya jika di luar rumah. Padahal lebih banyak waktu yang kami habiskan bersama di rumah. Masih harus berlatih. O,ya saya juga minta anak-anak yang sudah besar untuk mengingatkan dan mengingatkan saya ketika saya mulai tidak dalam jalur yang benar, kaitan dengan berkomunikasi produktif ini.
#level1
#day7
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahBunsyiip
Saturday, June 10, 2017
Komunikasi Produktif Day 6
Memasuki hari ke 3 HP mati, hari kedua tidak setor tulisan tantangan komprod ini, karena tidak punya link untuk setoran. Sudah berusaha untuk bertanya kepada teman sekelas tapi belum ada jawaban. Tak apa. Mari tetap menulis apa yang terjadi hari ini.
Hari keenam berkomunikasi produktif, mengatur intonasi yang ramah ketika berkomunikasi. Ternyata saya masih belum bisa konsisten, walau ketika kesalahan itu terjadi langsung sadar, bahwa saya harus merubah intonasi, tetap saja kembali terjadi. Seperti tadi siang, Ilman baru bangun tidur siang, setelah sholat dzuhur, jadwalnya adalah ngaji, Ia malah tiduran, jalan ke sana ke mari tanpa tujuan. Saya ingatkan untuk ngaji, dia masih malas-malasan. Akhirnya dengan suara berubah "Ilman ! please...." tidak dilanjut keburu sadar suara mulai berubah, namun begitu cukup membuat Ilman beranjak mengambil al-qur'annya dan ngaji. Saya sedih, kenapa masih seperti ini. Kenapa saya tidak berusaha untuk sabar dan memberinya pengertian dengan baik. Saya yakin dia akan mengerti.
Saya tahu, dalam berkomunikasi banyak hal turut serta termasuk keadaan hati komunikator, Kemarin dan hari ini, banyak yang saya pikirkan dan itu merusak suasana hati saya. Apakah itu alasan? ya itu alasan walaupun tidak cukup alasan untuk boleh marah, kesal atau apapun itu yang menyebabkan tujuan beromuniasi tidak tercapai. Apapun yang terjadi proseslah dalam hati dan pikiran sendiri, cooling down and talk.
Oh Alloh berilah hamba kesabaran, ketenangan membersamai anak-anak tumbuh di jalanMU.
#Level1
#day6
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#Kuliahbunsayiip
Hari keenam berkomunikasi produktif, mengatur intonasi yang ramah ketika berkomunikasi. Ternyata saya masih belum bisa konsisten, walau ketika kesalahan itu terjadi langsung sadar, bahwa saya harus merubah intonasi, tetap saja kembali terjadi. Seperti tadi siang, Ilman baru bangun tidur siang, setelah sholat dzuhur, jadwalnya adalah ngaji, Ia malah tiduran, jalan ke sana ke mari tanpa tujuan. Saya ingatkan untuk ngaji, dia masih malas-malasan. Akhirnya dengan suara berubah "Ilman ! please...." tidak dilanjut keburu sadar suara mulai berubah, namun begitu cukup membuat Ilman beranjak mengambil al-qur'annya dan ngaji. Saya sedih, kenapa masih seperti ini. Kenapa saya tidak berusaha untuk sabar dan memberinya pengertian dengan baik. Saya yakin dia akan mengerti.
Saya tahu, dalam berkomunikasi banyak hal turut serta termasuk keadaan hati komunikator, Kemarin dan hari ini, banyak yang saya pikirkan dan itu merusak suasana hati saya. Apakah itu alasan? ya itu alasan walaupun tidak cukup alasan untuk boleh marah, kesal atau apapun itu yang menyebabkan tujuan beromuniasi tidak tercapai. Apapun yang terjadi proseslah dalam hati dan pikiran sendiri, cooling down and talk.
Oh Alloh berilah hamba kesabaran, ketenangan membersamai anak-anak tumbuh di jalanMU.
#Level1
#day6
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#Kuliahbunsayiip
Friday, June 9, 2017
Komunikasi Produktif Day 5
"What a day", ungkapan kelelahan yang keluar dari mulut. Bagaimana tidak, rencana pulang ke Bandung dengan kereta jam 9.39, belum beli tiket kereta, belum ke ATM, belum packing, belum silaturahmi ke salah satu bibi, padahal rumahnya dekat dengan Ibu mertua. Suami sudah pulang kembali ke Bandung, jadi saya harus bisa menyelesaikan semua tugas ini sendirian. Masih dalam kontrol yang kuat, juga karena ada Omnya anak-anak dan neneknya, semuanya selesai tanpa ada insiden gara-gara kesalahan komunikasi, Naik kereta, bawa 4 anak dengan tambahan bawaan 2 dus oleh-oleh, berjalan smooth juga, Alhamdulillah. Di kereta, ketiga anak laki-laki tidur kelelahan, betapa saya juga inginn tidur, namun si nona masih segar, dia tidak mengijinkan saya tidur, dan tentu saja tidak mungkin ditinggalkan main sendiri. Masha Alloh, dia sangat cooperatif, Alhamdulillah. Kami berdua ngobrol, dia ngemil sambil lihat-lihat pemandangan dari jendela kereta.
Sampai rumah, saya yang mulai merasa sangat capek, badan penat, kepala pusing. Anak laki-laki mulai sibuk dengan urusannya sendiri, si Neng ingin ditemani main, sayapun mulai lepas kontrol "please guys, ibu cape pisan, temani si Neng main ya" dengan nada tinggi. Anak-anak nurut dengan terpaksa, tapi Si neng yang ga mau main dengan kakaknya. Tidak berhasil. Saya masih capek, tas-tas bawaan berserakan, dan the boys asyik aja nonton TV, nada ngomel keluar lagi "come on, minimal bereskan tas-tas kalian, simpan di tempat yang seharusnya, ibu penat melihat berantakan, inginnya tidur ini teh", tidak berhasil, hanya satu yang beranjak. Mungkin mereka capek, ingin istirahat dulu setelah perjalanan panjang, saya meminta mereka terlalu banyak, saya meminta tidak pada waktu yang tepat, dan ngomel juga bukan solusi, membuat saya lebih cape dan merekapun tidak terlalu mendengarkan. Semoga besok lebih baik.
#level1
#Day5
#Tantangan10hari
#komunkasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Sampai rumah, saya yang mulai merasa sangat capek, badan penat, kepala pusing. Anak laki-laki mulai sibuk dengan urusannya sendiri, si Neng ingin ditemani main, sayapun mulai lepas kontrol "please guys, ibu cape pisan, temani si Neng main ya" dengan nada tinggi. Anak-anak nurut dengan terpaksa, tapi Si neng yang ga mau main dengan kakaknya. Tidak berhasil. Saya masih capek, tas-tas bawaan berserakan, dan the boys asyik aja nonton TV, nada ngomel keluar lagi "come on, minimal bereskan tas-tas kalian, simpan di tempat yang seharusnya, ibu penat melihat berantakan, inginnya tidur ini teh", tidak berhasil, hanya satu yang beranjak. Mungkin mereka capek, ingin istirahat dulu setelah perjalanan panjang, saya meminta mereka terlalu banyak, saya meminta tidak pada waktu yang tepat, dan ngomel juga bukan solusi, membuat saya lebih cape dan merekapun tidak terlalu mendengarkan. Semoga besok lebih baik.
#level1
#Day5
#Tantangan10hari
#komunkasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Thursday, June 8, 2017
Komunikasi Produktif Day 4
Hari ketiga di Ciamis, kami menginap di rumah uwanya anak-anak, di daerah Cimaragas, sekira 1 jam perjalanan dari kota Ciamis. Mereka senang bisa bermain dengan sepupunya, saya asyik ngobrol dengan kakak ipar dan Ibu mertua, yang juga ikut nginep. Kami saling bertukar pendapat tentang bagaimana supaya anak lebih mudah didekati, sentuh badannya dengan tangan, peluk hatinya dengan do'a. Semoga Alloh mudahkan kita, orang tua, untuk mendampingi mereka menjalani kehidupannya.
Hari keempat tantangan komunikasi produktif, cukup berat banyak moment di mana saya harus narik nafas dan tetap tenang ketika menyampaikan pesan, dengan intonasi suara yang ramah, raut muka yang penuh senyuman. Saking senangnya main dengan sepupu, anak-anak tidur telat, sehabis sahur kembali main. Mereka lelah hingga terjadi banyak gesekan. Karena masih pagi, ibu masih bisa tenang menghadapinya. Tidak terjadi masalah. Siangnya kami kembali pulang ke Ciamis. Anak-anak lelah, saya juga lelah, tapi banyak kewajiban yang harus dikerjakan, ayahnya sudah kembali pulang ke Bandung, untungnya anak-anak dibawa Omnya main di rumahnya. Saya bisa tenang, ke sana ke mari sendirian. Sore hari bertemu kembali dengan anak-anak, si neng mulai rewel, ingin ini itu meminta dengan rengekan, beberapa kali saya hampir lost control, suara mulai meninggi, tiba2 sadar diri "intonasi bu", tarik nafas dan nada suara berubah. Alhamdulillah. Walaupun sulit tapi masih tetap semangat berlatih karena sangat terasa manfaatnya, untuk diri sendiri dan mereka.
#level1
#day4
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Hari keempat tantangan komunikasi produktif, cukup berat banyak moment di mana saya harus narik nafas dan tetap tenang ketika menyampaikan pesan, dengan intonasi suara yang ramah, raut muka yang penuh senyuman. Saking senangnya main dengan sepupu, anak-anak tidur telat, sehabis sahur kembali main. Mereka lelah hingga terjadi banyak gesekan. Karena masih pagi, ibu masih bisa tenang menghadapinya. Tidak terjadi masalah. Siangnya kami kembali pulang ke Ciamis. Anak-anak lelah, saya juga lelah, tapi banyak kewajiban yang harus dikerjakan, ayahnya sudah kembali pulang ke Bandung, untungnya anak-anak dibawa Omnya main di rumahnya. Saya bisa tenang, ke sana ke mari sendirian. Sore hari bertemu kembali dengan anak-anak, si neng mulai rewel, ingin ini itu meminta dengan rengekan, beberapa kali saya hampir lost control, suara mulai meninggi, tiba2 sadar diri "intonasi bu", tarik nafas dan nada suara berubah. Alhamdulillah. Walaupun sulit tapi masih tetap semangat berlatih karena sangat terasa manfaatnya, untuk diri sendiri dan mereka.
#level1
#day4
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Wednesday, June 7, 2017
Komunikasi Produktif Day 3
Hari ketiga games komprod ini cukup menantang. Ciamis yang panas, rencana berkunjung ke rumah saudara di beberapa tempat dalam waktu yang sempit, cukup menguras energi saya dan tentunya suami dan anak-anak, ditambah saya yang pms, sungguh nikmat:).
Beberapa kali saya tidak bisa mengontrol intonasi suara ketika berbicara dengan anak-anak. Kejadiannya ketika kami harus segera pergi, bujang kedua iseng mengganggu adiknya hingga si adik nangis dan bad mood. Saya menegur dengan nada kesal. Rusaklah suasana saat itu.
Kejadian kedua, saya dan suami salah salah mengartikan sesuatu, hingga hampir terjadi kecelakaan, beliau "menyalahkan" saya dan saya protes tidak terima. Akibatnya komunikasi-jomunikasi yang saya lakukan dengan anak-anak sangat tidak produktif. Semoga besok bisa kembali pada jalur yang benar. Benarlah yang dikatakan bahwa "I'm responsible for my communication result". Jika saya bisa berkomunikasi dengan menjaga intonasi suara seperti 2 hari kemarin, hasilnya, sangat membahagiakan.
#level1
#day3
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Beberapa kali saya tidak bisa mengontrol intonasi suara ketika berbicara dengan anak-anak. Kejadiannya ketika kami harus segera pergi, bujang kedua iseng mengganggu adiknya hingga si adik nangis dan bad mood. Saya menegur dengan nada kesal. Rusaklah suasana saat itu.
Kejadian kedua, saya dan suami salah salah mengartikan sesuatu, hingga hampir terjadi kecelakaan, beliau "menyalahkan" saya dan saya protes tidak terima. Akibatnya komunikasi-jomunikasi yang saya lakukan dengan anak-anak sangat tidak produktif. Semoga besok bisa kembali pada jalur yang benar. Benarlah yang dikatakan bahwa "I'm responsible for my communication result". Jika saya bisa berkomunikasi dengan menjaga intonasi suara seperti 2 hari kemarin, hasilnya, sangat membahagiakan.
#level1
#day3
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Tuesday, June 6, 2017
Komunikasi Produktif Day 2
Hari kedua tantangan komprod ini berjalan lancar, Alhamdulillah. Pagi diawali ketika bujang ke 2 mencari buku-buku paket yang harus dikembalikan ke sekolah, dari 8 buku baru dikumpulkan 5 buku sementara 3 buku lain entah di mana, dan Ia mencarinya sesaat sebelum berangkat sekolah. Ibunya dengan berusaha tenang dan tidak ngomel, menemaninya mencari. Walaupun buku tetap belum ditemukan, tapi kami tidak masuk dalam kancah ketidaknyamanan seperti jika saya ngomel "kenapa tidak dipersiapkan sebelumnya, kenapa mencarinya mendadak, di mana disimpannya, kok gak apik" dan kata-kata tidak produktif lainnya, yang biasanya terjadi. Hari ini saya bisa menahan diri, dia juga mengerti kesalahannya sendiri tanpa harus diceramahi. Dia berangkat sekolah dengan tenang berani menghadapi konsekwensi dari keterlambatannya mengembalikan buku paket. Good job me :).
Sementara bujang kedua pergi ke sekolah, anggota keluarga lain packing untuk mudik siang harinya. Persiapan berjalan lancar, semuanya kooperatif, mulai dari menunggu kendaraan, dalam perjalanan, hingga sampai di Ciamis semuanya bahagia. Walaupun Neng kecil sesekali rewel, saya, ayahnya dan para Kaka menanggapinya dengan tenang, mengalihkan perhatiannya. Ternyata, jika ibunya berkomunikasi dengan mereka dalam intonasi yang ramah, tenang dan fokus, hasilnya lebih wow, anggota keluarga lainpun jadi ikut tenang dan bisa belajar berkomunikasi dengan lebih produktif. Alhamdulillah.
Sampai di Ciamis, bertemu nini. Anak-anak riang, ayah ibu tenang, ninipun senang. Si Neng yang tidak henti bergerak, berbicara dan meminta banyak perhatian dapat ditanggapi dengan baik hingga Nini berkata "bisaan euy si Ibu ngobrolna ka budak teh, sabar deuih" komen terindah, Alhamdulillah, semoga istiqomah. Aamiin.
#level1
#day2
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Sementara bujang kedua pergi ke sekolah, anggota keluarga lain packing untuk mudik siang harinya. Persiapan berjalan lancar, semuanya kooperatif, mulai dari menunggu kendaraan, dalam perjalanan, hingga sampai di Ciamis semuanya bahagia. Walaupun Neng kecil sesekali rewel, saya, ayahnya dan para Kaka menanggapinya dengan tenang, mengalihkan perhatiannya. Ternyata, jika ibunya berkomunikasi dengan mereka dalam intonasi yang ramah, tenang dan fokus, hasilnya lebih wow, anggota keluarga lainpun jadi ikut tenang dan bisa belajar berkomunikasi dengan lebih produktif. Alhamdulillah.
Sampai di Ciamis, bertemu nini. Anak-anak riang, ayah ibu tenang, ninipun senang. Si Neng yang tidak henti bergerak, berbicara dan meminta banyak perhatian dapat ditanggapi dengan baik hingga Nini berkata "bisaan euy si Ibu ngobrolna ka budak teh, sabar deuih" komen terindah, Alhamdulillah, semoga istiqomah. Aamiin.
#level1
#day2
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Monday, June 5, 2017
Komunikasi Produktif #Day 1
Berani mengikuti kelas Bunda Sayang berarti harus siap menyelesaikan tantangan yang diberikan. Tantangan dari materi pertama, yaitu Komunikasi Produktif, telah diterima. Beberapa hari setelah menerima materi, saya merasa disadarkan kembali, banyak yang harus saya perbaiki. Bismillah, semoga saya bisa, harus bisa, pasti bisa. Dalam tantangan ini saya memilih gaya komunikasi yang kedua, kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah.
Hari pertama ini dimulai ketika ketiga anak laki-laki pulang sholat subuh dari masjid, sebelum mereka sibuk sendiri dengan aktivitasnya, tidur, membaca atau browsing, saya menyambut mereka di ruang tamu dengan Alquran dipangkuan, dengan mengontrol intonasi suara saya mengajak mereka untuk ngaji "boys, bagaimana kalau sebelum tidur lagi, kita ngaji dulu yuk", Alhamdulillah mereka melakukannya. Kami ngaji dengan tenang, sampai hari mulai terang.
Kearena bujang ke dua, Hanif dan yang ketiga, Ilman pergi sekolah sampai ashar, kami tidak terlalu banyak berkomunikasi hari ini. Saya lebih banyak menghabiskan waktu bersama si nona 3 tahun dan si cikal 15thn yang kebetulan hari ini jadwal keduanya ke dokter gigi. Si Cikal yang tenang dan sayang sama adik perempuannya menjadi teman yang asyik dalam perjalanan ke RS, dia membantu menenangkan adiknya yang bosan di jalan, Ibuna terbantu untuk selalu dalam kendali emosi dan intonasi ketika si nona ingin ini dan itu. Hari berjalan dengan lebih tenang Tenang bagi ibunya dan anak-anak.
Ada satu hal yang lucu, ketika kami sekeluarga, minus ayah yang sedang tidak di rumah, ngobrol setelah taraweh. Saya berbincang dengan intonasi yang sangat tidak biasa, sayapun merasa lembut sekali eh anak-anak malah tertawa "ibu jadi aneh, suaranya terlalu ramah"haha. Baiklah saya akan menjaga intonasi ramah tapi natural saya tidak berlebihan supaya ga aneh, padahal tadinya saya latihan mencoba nada dan intonasi yang berbeda :D
#level1
#day1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Hari pertama ini dimulai ketika ketiga anak laki-laki pulang sholat subuh dari masjid, sebelum mereka sibuk sendiri dengan aktivitasnya, tidur, membaca atau browsing, saya menyambut mereka di ruang tamu dengan Alquran dipangkuan, dengan mengontrol intonasi suara saya mengajak mereka untuk ngaji "boys, bagaimana kalau sebelum tidur lagi, kita ngaji dulu yuk", Alhamdulillah mereka melakukannya. Kami ngaji dengan tenang, sampai hari mulai terang.
Kearena bujang ke dua, Hanif dan yang ketiga, Ilman pergi sekolah sampai ashar, kami tidak terlalu banyak berkomunikasi hari ini. Saya lebih banyak menghabiskan waktu bersama si nona 3 tahun dan si cikal 15thn yang kebetulan hari ini jadwal keduanya ke dokter gigi. Si Cikal yang tenang dan sayang sama adik perempuannya menjadi teman yang asyik dalam perjalanan ke RS, dia membantu menenangkan adiknya yang bosan di jalan, Ibuna terbantu untuk selalu dalam kendali emosi dan intonasi ketika si nona ingin ini dan itu. Hari berjalan dengan lebih tenang Tenang bagi ibunya dan anak-anak.
Ada satu hal yang lucu, ketika kami sekeluarga, minus ayah yang sedang tidak di rumah, ngobrol setelah taraweh. Saya berbincang dengan intonasi yang sangat tidak biasa, sayapun merasa lembut sekali eh anak-anak malah tertawa "ibu jadi aneh, suaranya terlalu ramah"haha. Baiklah saya akan menjaga intonasi ramah tapi natural saya tidak berlebihan supaya ga aneh, padahal tadinya saya latihan mencoba nada dan intonasi yang berbeda :D
#level1
#day1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Sunday, June 4, 2017
Bismillahirrahmanirrahiim
Kangen ngeblog, kangen blogwalking, kangen menulis, kangen membaca. Harus dimulai lagi, semoga bisa. Mulai ngeblog tahun 2005 bercerita tentang perjalanan hidup kulawarga yang baru berputra 2, lanjut yang berputra 3, kemudian terhenti. Kini memulai kisah dengan tambahan anggota kelurga baru yang belum sempat diblogkan:D.
Subscribe to:
Posts (Atom)